Kemplang Saniah, terkenal tak hanya di Bangka Selatan

Kemplang Saniah, terkenal tak hanya di Bangka Selatan

Nama  Saniah Sahir sudah tidak asing lagi bagi warga Toboali Bangka Selatan. Bahkan kesohoran perajin getas, kemplang panggang dan kemplang goreng ini tak hanya sebatas Toboali, karena produk makanan hasil olahannya sudah sangat dikenal dan telah merambah pasar di berbagai daerah di Bangka Belitung.

Sebelum terkenal seperti sekarang, orang yang pertama kali merintis usaha ini adalah sang ibu, Hj Saniah Sahir pada tahun 1979 silam dan akhirnya menjadi usaha keluarga Sahir secara turun temurun hingga ke putrinya, Jumika Sahir (47). Nyonya Jumika demikian ia akrab disapa adalah generasi kedua usaha pembuatan kemplang goreng, kemplang panggang, dan getas tersebut. Awalnya, produk yang dihasilkan hanya kemplang goreng. Baru setelah itu ada getas dan kemplang panggang.

“Saat saya masih duduk di bangku SMA, ibu saya sudah memulai usaha keluarga ini. Kalau dihitung-hitung usaha kemplang goreng sekitar 20 tahun, getas 12 tahun, dan kemplang panggang sekitar 4 tahun,” kenang Jumika ditemui di kediamannya, Jumat (17/6).

Diungkapkan Jumika, ibunya merintis usaha ini membutuhkan banyak pengorbanan, hingga produk yang dihasilkan bisa terkenal seperti sekarang.

“Saya dulu sehabis pulang sekolah jualan ke rumah-rumah, menjajakan kemplang goreng. Waktu itu memang dari usaha ini untuk mencukupi kebutuhan hidup. Makanya saya bilang sama anak-anak, jangan ada kata malu, perjuangan ibu (saya,red) tidak seperti dirasakan kalian saat ini,” tutur Jumika.

Dari usaha pembuatan kemplang goreng, getas dan kemplang panggang ini, diakui Jumika, ia bersama suaminya Muis mampu menafkahi seluruh keluarga. Bahkan anak-anaknya bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi. Usaha keluarga beralamat di Jalan Sederhana Toboali Kabupaten Bangka Selatan ini mempekerjakan 8 karyawan, mulai bertugas memanggang, menggoreng, membuat adonan, hingga mengemas.
“Minimal dengan ada usaha ini saya tidak menganggur dan punya usaha. Dulunya hanya enam orang karyawan, sekarang bertambah dua orang,” sebutnya.

Bantuan Timah

Jumika mengakui, perkembangan usaha yang dimilikinya salah satunya adalah karena adanya bantuan pinjaman melalui program CSR PT Timah Tbk. Pada tahun 1999 saat usahanya mulai berkembang ia membutuhkan modal yang lebih besar. Jumika pun mengajukan bantuan pinjaman modal,namun upayanya belum membuahkan hasil.

“Waktu pertama kali saya ajukan nggak berhasil. Karena tim survei menilai saya belum layak menerima bantuan itu karena suami saya status PNS, karena PNS tidak bisa dapat bantuan itu,” ungkapnya. Aral melintang tidak membuat semangat Jumika pupus. Ia pun mengajukan bantuan untuk kedua kalinya ke PT Timah Tbk.

“Alhamdulliah tahun 2011, bantuan pinjaman itu dikabulkan oleh PT Timah,” ujarnya. Modal sebesar Rp 20 juta diterima dari PT Timah digunakan untuk menambah produksinya. “Bantuan ini kita hargai karena sangat membantu usaha saya. Sejak mendapatkan bantuan pinjaman, usaha saya cukup terbantu,” imbuhnya

Sejauh ini, usaha pembuatan kemplang goreng, getas, dan kemplang panggang skala kecil milik keluarga Sahir ini dipasarkan tersebar di wilayah Toboali, dan wilayah lainnya di Propinsi Bangka Belitung. Sebagian lagi banyak pelanggan memesan produknya.

“Tahun ini PRJ di Jakarta produk kita juga diikutsertakan, dan luar Indonesia juga,” sebutnya.
Menurut Jumika, dalam satu hari, sekarang ini ia mampu memproduksi masing-masing sekitar 20 kilogram getas dan kemplang goreng. Sedangkan kemplang panggang sekitar 25 kilogram.

“Bahan utama tetap ikan Tenggiri, telur ayam, sagu, dan penyedap rasa,”tegasnya.
Besarnya modal yang harus dikeluarkan dalam satu kali produksi sebesar Rp 2 jutaan. “Jumlah itu sudah masuk upah pekerja, bahan baku, dan pengeluaran lainnya,” kata Jumika.

Meskipun belum memproduksi secara besar, Jumika berharap, usaha keluarga tersebut tetap bisa berjalan. Dari usaha tersebut ia punya penghasilan tetap. Bagi dia, usaha ini bukan hanya sekedar lokomotif ekonomi keluarga. Tetapi bagaimana menjaga kualitas produk, dan konsumen tetap tertarik.

“Minimal saya bisa memperoleh penghasilan Rp 300-Rp 400 ribu per hari,” sebutnya. Jumika tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan pinjaman modal dari PT Timah Tbk karena dengan bantuan ini usahanya makin bertambah besar.

Tetap Jaga Kualitas

Dalam menjalankan usahanya, Jumika memili prinsip kualitas nomor satu. Makanya ia selalu memilih bahan-bahan yang berkualitas. Seperti dalam memilih daging ikan tenggiri, ia selalu gunakan ikan segar, “kalau ikannya jelek biasanya produk dihasilkan kurang baik terutama pada rasa, bau, dan warnanya,”paparnya.

Jumika mengatakan, produk dihasilkanya murni tidak mengandung zat pengawet. “Yang khas membedakan produk kami dengan produk lainnya, bisa dilihat dari warnanya. Seperti getas, warnanya agak kuning-kekuningan, kalau biasanya pake bahan pengawet putih bersih. Terus rasa juga gurih, dan renyah,” sebutnya.

Sumber: Bangka Pos

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML tags are not allowed.