Terasi Meli, usaha rumahan tambah penghasilan

Terasi Meli, usaha rumahan tambah penghasilan

Usaha olahan terasi ini menjadi salahsatu urat nadi perekonomian masyarakat di wilayah Kabupaten Bangka Selatan

Sosok wanita murah senyum melayani hangat pelanggan yang datang ke warung mencari olahan yang mereka cari. Tidak lain terasi buatan Meli, sosok ibu rumah tangga yang menjalankan usaha pengolahan terasi di kawasan Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
Meli menjadikan olahan terasi menjadi usaha rumahan yang mendatangkan penghasilan cukup untuk dia dan keluarganya. Dengan penjualan rata-rata 10 – 20 kg per hari, wanita kelahiran 36 tahun lalu ini mengaku bisa terus menjalankan usahanya ini sejak ia berumur 20 tahun sampai sekarang.
“Kita jual terasi dengan berbagai kisaran harga sesuai berat dan kualitas. Yakni kisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 80 ribu kg. Dan pembeli banyak yang mencari terasi yang seharga Rp 35 ribu per kg,” ucapnya.
Terasi olahannya, termasuk dalam usaha hilir terkenal di Kelurahan Toboali, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Daerah ini, ternama oleh karena usaha terasi juga olahan lainnya, seperti kerupuk, getas, hingga olahan ikan lainnya.
Selain menjadi salah satu produsen paling produktif di Kabupaten Bangka Selatan, rasanya yang khas Toboali menjadikan produk terasi di kawasan kampung ini terkenal dimana-mana. Tidak heran, usaha olahan seperti terasi ini telah menjadi urat nadi di wilayah Kabupaten Bangka Selatan.
Pemasaran
Terasi yang ia buat akan dijual dengan cetakan berbentuk kotak yang kemudian dipajang dalam etalase di warung depan rumahnya. Dan terkait penjualannya, semenjak membantu usaha ibunya yang bergerak dalam pembuatan terasi skala rumah tangga pada 1980-an lalu, Meli mengakui penjualan pun mengikuti cara orangtuanya.
“Saya kan belajar dari orangtua, setelah menikah sekitar awal 2000-an lalu, saya kemudian berusaha sendiri bersama suami. Dan ketika sudah percaya diri sekitar 5 tahun kemudian, saya menjual keliling setiap hari hingga ke kampung-kampung lain,” katanya.
Bermodalkan sepeda motor, Meli menjelaskan penjualan setiap harinya bisa mencapai 20 kg terasi yang dijual dalam berbagai berat. Misal, dari ukuran 250 gram hingga 500 gram. Namun, dia juga menerima pesanan dan menjual langsung di rumahnya. Setelah orang kenal produknya, banyak pesanan dan lebih banyak langsung datang ke rumahnya, Meli pun lebih bergerak membuka penjualan di rumah. Tidak menjual keliling lagi.
 “Bahkan syukurnya mulai tahun ini kita sudah punya warung sendiri di depan rumah,” ungkapnya sambil merujuk ke arah warungnya. Latar belakang membangun warung juga ia ungkap karena melihat pelanggan yang kadang penuh datang ke rumah, tapi hanya berdiri di luar rumah.
Memenuhi kebutuhan pelanggan seperti ini turut menggerakkan dirinya untuk membangun warung terasi tersebut. Nilai plusnya dengan warung, ada pula yang menitipkan produk olahan lain seperti kerupuk untuk dijual. Sehingga produk di warungnya cukup bervariasi bagi para pembeli yang singgah.
Produk terasi yang ia jual mulanya pun ia bungkus dengan plastik sederhana, yang juga mengikuti metode ibunya. Walaupun lebih sering, banyak pengolah dan penjual terasi sepertinya menjual terasinya mereka dalam bungkus koran.
Seiring waktu, dan dengan bantuan pemerintah daerah seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan yang menangani usaha kecil dan menengah, pembungkusan pun menjadi perhatian ibu tiga anak ini untuk pemasaran lebih baik. Dia pun menjadi binaan penyuluh semenjak 2014 lalu.
Manfaatnya, sekarang Meli sudah memiliki stiker sendiri untuk produknya. “Walaupun tidak jarang stiker dilepas karena permintaan pelanggan, seperti agen. Dengan kesepakatan kita, para reseller  ini beli dalam jumlah besar untuk kemudian dijual lagi dengan merk sendiri,” ucapnya.
Pemesan seperti ini, tambah Meli, banyak berasal dari luar Bangka Selatan. Rata-rata mereka memesan hingga 50 kg dan membelinya setiap seminggu sekali. Pernah, ucapnya, ada yang langsung memesan 100 kg untuk dijual kembali.
Tak lekang dikata, terasi Toboali yang dikenal acap karena rasanya yang aduhai tidak hanya bisa dinikmati setelah dibuka bungkusnya. Melainkan dari mata sudah terlihat manis, yang semakin membuai konsumen untuk segera membawanya pulang untuk dikonsumsi.
Proses Sederhana
Untuk memproduksi terasi yang berkualitas, Meli bercerita, berbahan baku utama udang yang juga harus berkualitas terbaik. Mendapatkan udangnya pun tak sembarangan, ia menambahkan, jenis udang yang digunakan akan menghasilkan jenis terasi yang berbeda pula. Contoh yang paling banyak dipakai untuk terasi, yaitu udang lokal yang sering disebut udang mayang, udang bubuk, udang nasi, hingga udang kapas.
Sumber: Majalah TROBOS Aqua Edisi-51/ 15 Agustus – 14 September 2016

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML tags are not allowed.